Asmara Berdarah Didepan Kelir

kelir(internet)Dikutip Dari Majalah Adiluhung Edisi 01

Oleh : Daniel Tatag

Sebuah makam yang ber­awal dari kisah asmara seorang raja Mataram dengan sinden cantik isteri Ki Dalang. Di tengah pertunjukkan wayang kulit, Ki Dalang ditemukan tewas bersimbah darah. Siapa pembunuhnya?

ADA suasana duka jika peziarah menapakkan ka­ki di pemakaman Antaka Pura (Istana Kematian) di perbukitan Gunung Kelir, Dukuh Gunung Kelir, Kecamatan Plered, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Suasana makam yang berada di atas perbukitan yang berteras-teras ini sangat hening. Puluhan pohon semboja yang telah tua tetapi masih kokoh menjadi hiasan utama makam itu. Juga ada dua pohon be­ringin raksasa berusia tua de­ngan sulur-sulurnya, berada di pojok barat laut dari halaman pemakaman
Di bawah pohon-pohon semboja tua itu berderet pe­makam­an dengan batu nisan ber­warna hitam. Satu di antaranya adalah batu nisan Kanjeng Ratu Malang. Sementara di bawah pohon beri­ngin raksasa terdapat makam sederhana yang di sebelahnya diukir nama Ki Dalang Panjang Mas.

Posisi makam Ki Panjang Mas terpisah dengan kelompok makam lain. Batu nisan Ki Panjang Mas hanya berupa onggokan batu diplester semen, namun kini plesteran semennya sudah me­ngelupas.

Sedangkan makam lainnya yang berada terpisah ada lima nisan berada di atas tanah yang agak tinggi. Nisan yang paling tengah adalah makam Nyai Panjang Mas yang kemudian bergelar Kanjeng Ratu Mas Malang setelah diperistri Amangkurat I.

Makam Ratu Mas Malang ini terletak di halaman tersen­diri dan diberi pagar keliling ber­ukuran 8,5 m x 11 m. Sedang­kan di samping bawah nisan Ratu Mas Malang, ada belasan nisan tanpa nama. Kemungkin­an besar makam-makam tak bernama itu adalah makam para pengrawit atau penabuh gamelan dan pesinden, -yang semuanya adalah anggota rombongan Ki Dalang Panjang Mas. Bahkan, konon sekotak wayang kulit yang biasanya digunakan Ki Panjang Mas mendalang berikut gamelannya juga dikuburkan disitu. Secara keseluruhan ada 18 nisan yang membujur, 14 buah diantaranya tersusun dari batuan andesit monolith dan sisanya hanya ditandai dengan tumpuk­an batu putih.
Menurut Juru Kunci Ma­kam, Surakso Sumarno alias Slamet, memang tidak banyak orang berziarah ke sini.

Dari Laporan Studi Teknis Arkeologis Situs Makam Ratu Mas Malang dari Balai Pelestari­an Peninggalan Purbakala Yogyakarta (27 September-12 Oktober 2004), Makam Antaka Pura itu kini dikenal secara umum de­ngan nama Situs Makam Gunung Kelir, yang dibangun oleh Sunan Amangkurat I (1646 -1677 M) , di tahun 1668. Meski makam Ki Panjang Mas dan Ratu Mas Malang tidak berdampingan, tentu ada segi historis yang melatarbelakangi­nya. Karena kedua tokoh itu pernah hidup dalam ikatan suami-istri, walaupun akhirnya Ratu Mas Malang menjadi permaisuri Amangkurat I. Rasa ne­langsa peziarah terasa saat me­ngetahui siapa mereka dan bagaimana hubungan antar pri­badi yang dimakamkan di pemakaman Antaka Pura itu. …….

Baca Artikel Ini Lebih Lengkap didalam Majalah Adiluhung Edisi 01

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s