Benarkah Keris Gadjah Mada Ada di Bali?

Artikel Ini Dikutip Dari Majalah Adiluhung Edisi 02

Oleh : Ki Juru Bangunjiwa

“Lamun huwus kalah nu­santara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, Seram, Tanjung Pura, ring Haru, ring Daha, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang,
Tumasik, Samana. Samana isun amukti Palapa”

Siapa tak kenal Gadjah Mada? Dengan sumpah Tan Amukti Palapa-nya Gadjah Mada ber­­hasil mempersatukan Nusantara. Belum ada yang memberikan ke­terangan pasti kapan Ga­djah Mada berikrar Palapa, namun yang jelas tempat peristiwanya di pasowan­an paseban agung setelah penye­lenggaraan acara ritual sesajian peringatan tahunan. Saat itu Sang Maharaja Puteri Tribuwana Tungga Dewi yang tengah berkuasa di Majapahit (1328-1350) datang, Gajah Mada duduk di Bangsal Pe­ngrawit. Patih Arya Tadah meng­undurkan diri sambil menyerahkan keris pusaka kepatihan.

Sesaat kemudian Sang Ra­ja Puteri mengundang Adi­tya­­­­­war­man serta Raja Matahun Wijaya­­rajasa yang membawa Ga­djah Mada untuk datang mendekat. Sang Maharaja Puteri memberikan nawala (surat) tertutup perihal pelantikan Mahapatih kepada Adityawarman, dan menyuruh un­tuk membacanya. Setelah di­baca surat diberikan kepada Ga­djah Mada, kemudian Sang Raja Puteri memberikan keris kepatih­an kepada Wijayarajasa yang langsung diselipkan ke pinggang Gadjah Mada.

Yang aneh, setelah sang ra­ja meninggalkan tempat, saat itu juga Gadjah Mada menyatakan sumpah janji yang oleh para pujangga disebut Sumpah Palapa.

Dalam buku A. Story of Majapahit, Gadjah Mada berikrar sambil mengangkat keris kepatihan: “Lamun huwus kalah nu­santara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, Seram, Tanjung Pura, ring Haru, ring Daha, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana. Samana isun amukti Palapa“. Maksud ikrar di atas kurang lebih “Selamanya tidak akan memakan palapa apabila seluruh saudara bersuku-suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan Nusantara belum bergabung menjadi satu, belum ikut merasakan kemakmuran serta belum ikut menikmati keluhuran dan kehebatan negara Majapahit”.

Boleh dikatakan bahwa pusat kendali kerajaan Majapahit berada di tangan Gadjah Mada, sedang pengganti ratu putri, Prabu Rajasanagara (Hayamwuruk, bertahta sejak 1350) merupakan lambang kesatuan.

Kejayaan Majapahit pada ma­sa Hayamwuruk dan Patih Gadjah Mada disebut sebagai Zaman Kerta, zaman emas atau Windu Kencana. Negara manca menyebut Swarnadwipa, artinya pulau yang berkelimpahan emas, yang maksudnya adalah seluruh kepulauan yang penduduknya tidak kekurangan sandang dan pangan. Kejayaan itu menjadi pujian para pujangga yang selanjutnya menjadi jimat pusaka prasasti yang lestari dalam sanubari masyarakat Nusantara.

Itulah cuplikan sekilas sejarah tentang Gadjah Mada de-ngan sumpahnya sambil meng­angkat keris. Sekarang banyak orang memburu keris itu. Namun hingga saat ini tidak ba­nyak yang tahu seperti apa keris Ga­djah Mada. Kebetulan saja, ketika meng­adakan pameran keris dan batu mulia di Sindu Beach Bali tahun 2000 penulis bertemu de­ngan Hyang Surya Wilwatikta yang mengaku keturunan 11 dari Putri Champa dan pernah memimpin Puri Majapahit. Hyang Surya yang sekarang tinggal di Garuda Wisnu Kencana Bali juga ikut menyemarakkan pameran.

Menurut istilah Bali Hyang Surya iku nyejer di dalam pamer­an tersebut. Penulis ketika itu diminta oleh Hyang Surya melihat sekilas tentang keris yang di­yakini keris Majapahit. Sebuah keberuntungan bagi penulis karena tidak setiap orang boleh melihat keris tersebut. Bahkan Hyang Surya memperkenankan saya untuk menginventarisasi kerisnya yang berjumlah sekitar enam ratus buah. Uniknya keris-keris Hyang Surya selalu kembar. Pada saat itu saya juga dimintai tolong untuk memberikan nama dapur, tangguh serta pamor yang ada di dalam keris yang dikoleksi oleh Hyang Surya Wilwatikta.

Bersamaan dengan keris- keris tersebut Hyang Surya juga menyimpan Pratima Majapahit. Bukan hal yang aneh, lantaran Hyang Surya lama tinggal di Puri Majapahit Majakerta, Jawa Timur di sebelah utara Segaran Maja-kerta, di mana Museum Majapahit berada.

Akhir tahun Sembilan puluhan Hyang Surya hijrah ke Bali dengan membawa segala peninggalan Majapahit.

embali ke keris Gadjah Mada, memang tidak banyak orang yang tahu. Yang jelas keris Gadjah Mada yang diyakini  ber­ada di tangan Hyang Surya adalah keris Gadjah Mada yang panjangya kurang lebih satu setengah meter dengan lekuk 17 dan berdapur  Karna Tanding, artinya ricikannya di bagian bawah atau  sor sorannya mempunyai sekar kacang atau kembang kacang kembar kanan dan kiri (Sayang sekali keris tersebut tidak boleh difoto). Dalam catatan  dari Cina disebutkan bahwa pada zaman Majapahit orang Jawa paling tidak mengenakan tiga macam keris. Dua di pinggang sebagai keris pemberian orang tua dan andalan, serta satu keris di tangan sebagai senjata. Meskipun demikian antara keris pusaka maupun keris senjata pada zaman dahulu dibuat oleh …


Baca Artikel Lengkapnya di Majalah Adiluhung Edisi 02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s