Mengenal Budaya Adiluhung Kraton Yogyakarta

Artikel ini dikutip dari Majalah Adiluhung Edisi 02

Oleh : Drs. GBPH. Yudhaningrat M.M.

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah negara merdeka, dimulai sejak Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755, yang menjelaskan bahwa Bendara Pangeran Harya Mangkubumi menerima wilayah dan situasi Negara Mataram yang luasnya ‘sesigar semangka’ (sebagian kekuasaan dari wilayah Negara Metaram), serta naik tahta dengan gelar: Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati Ing Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah yang bertahta pertama kali di Negara Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sejak 7 Juni 1756 Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ber­ada di tengah Kota Yogyakarta. Kraton Ngayogyakarta Hadining­rat dirancang rapi atas kehendak Ngarsa Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan yang sebelumnya berkehendak singgah di persinggahan Kagungan Dalem Pesanggrahan Ambar Ketawang, di sebelah barat Kota Yogyakarta.

Budaya adiluhung di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat bisa dilihat dari gelar Sri Sultan yang bisa dibagi menjadi tujuh pengertian, dan telah menjadi sumber utama Budaya Adiluhung Kraton Ngayogyakarta, yakni:
1. Ingkang Sinuwun Kang­jeng Sultan; 2. Hamengku Buwa­na; 3. Senopati Ing Ngalaga; 4. Ngab­durrakhman; 5. Sayiddina; 6. Panatagama; 7. Kalifatullah

Adapun makna dari Gelar Sultan tersebut adalah:

1. Ingkang Sinuwun Kang­jeng Sultan, menjelaskan bahwa Pemerintahan Ne­ga­ra Mataram Yogyakarta dipimpin oleh Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diwujudkan dan diterapkan berdasar kepada Agama Islam dan Budaya Jawa.

2. Hamengku Buwana, menjelaskan bahwa Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat diwajibkan bertindak hamemayu hayu­ning bawana (membuat baik dunia), harus melayani hi­dup dan kehidup­an semua makhluk ciptaan Allah SWT. Mengajak rakyat untuk selalu menyembah hanya kepada Allah SWT.

3. Senopati Ing Ngalaga, menjelaskan bahwa sebagai Pemimpin Umat Islam, Sultan Ngayog­yakarta Hadining­rat wajib meme­rangi dan memberantas semua yang menjadi halangan hidup dan kehidupan dalam masyarakat. Berani bertindak tegas terhadap siapa saja termasuk Garwa Dalem (istri), Putra Dalem (anak), Sentana Dalem (keluarga dekat), Kawula Dalem (masyarakat Yogyakarta) atau semua orang , kelompok atau Badan Pemerintahan yang berada di dalam dan di luar Negari Nga­yogyakarta Hadiningrat apabila telah terbukti ingin merongrong wibawa Sultan dan Negari Nga­yogyakarta Hadiningrat. Sebagai Sultan harus berani berkorban untuk Para Prajurit , Para Pegawai Pemerintahan, Anak dan Keluarga Kerajaan, Masyarakat Yogyakarta, berani maju ke medan perang menjadi Panglima Penentu kemenangan .

4. Ngabdurrakhman, menjelaskan bahwa Sultan Ngayogyakar­ta Hadi­ningrat harus bisa melayani Masyarakat dan Allah de­ngan dasar hukum pemerintahan, budaya dan hukum Agama (Al– Qur”an dan Hadits), atau menjadi Pelayanan Allah yang paling dikasihi.

5. Sayiddina, menjelaskan bahwa Sultan Ngayogyakarta Hadining­rat harus berahklak luhur, mo­ral, tingkah laku, sopan santun, dan wicara harus sesuai dengan yang dipaparkan di dalam Budaya Adiluhung Kraton Mataram, yakni “Islami kang Njawani saha Njawani kang Islami.” Menjadi orang Islam yang tidak melupakan Jati Diri sebagai orang Jawa atau sebaliknya menjadi orang Jawa yang taat dengan ajaran Agama Islam .

6. Panatagama, menjelaskan bah­­wa Sultan Ngayogyakarta Hadi­ningrat harus bisa menjadi pemimpin yang tidak berpihak ke­pada agama tertentu lebih dari itu harus bisa memberikan kemudahan dan kedamaian bagi masyarakat Yogyakarta yang memeluk agama/kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa , Allah SWT.

7. Kalifatullah, menjelaskan bahwa Sultan Ngayogyakarta Hadi­ningrat harus patuh terhadap tu­gas luhur dari Allah SWT dan diwujudkan dengan bertanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga , kerabat, para pelayan, seluruh masyarakat tentang hubungan hidup di dunia yang berdampak pada hidup di surga (akhirat), mengajak manusia untuk me­nyembah Allah SWT.

Di dalam menjalankan pe­me­rintahan, Ngarsa Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan bisa membaca Kitab Kangjeng Surya Raja dan kitab kitab lainnya yang sungguh menjadi kompas hidup dan kehidupan seluruh masyarakat yang penuh keadilan. Kitab-kitab itu antara lain Kitab Nitisewoko, Kitab Nitisruti, Kitab Nitipraja, dan Babad Tanah Jawa, Babad Mataram, Babad Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, Kitab Tajussalatin, Kitab Ambiya dan tulisan sastra budaya lain yang sangat cocok untuk para Raja Ke­rajaan Yogyakarta terlebih Kitab Suci Agama Islam (Al – Qur’an dan Hadits).

Sinuwun Kangjeng Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat di­lindungi Payung Agung (Songsong Gilap) dinamai Kangjeng Kyai Tunggul Naga. Hal itu sebagai simbol bahwa Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat dilindungi oleh ku­asa Allah SWT yang digambarkan dengan ruji payung berjumlah 99 yang melambangkan Asma’ul Husna ( Nama Agung Allah SWT ).

Sebagai raja yang sah yang bertahta di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Sultan mendapatkan kekuatan dari pusaka-pusaka kerajaan dan Undang–undang Pemerintahan yang berwujud Tulisan juga Aturan Budaya Adiluhung dari para Leluhur Tanah Jawa yang penuh dengan kebijaksanaan dan berbudi pekerti luhur.

Sebagai penambah kepercayaan diri (sipat kandel) dan menjadi lambang pewaris tahta (Wahyu Ratu), Kangjeng Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat harus kuat memakai Kanjeng Kyai Ageng Kopek, pusaka warisan dari Sang Prabu Yudhistira dari Negara Amarta yang sebelum wa­fat menitipkan pusaka Kyai Ageng Kopek kepada Kangjeng Sunan Kalijaga untuk diberikan kepada Para Raja Tanah Jawa agar mendapatkan kekuatan dalam me­mangku jabatan sebagai Raja. Pusaka Kangjeng Kyai Ageng Kopek adalah keris dengan dapur Jalak Sangu Tumpeng, dibuat oleh Empu Ramadi di zaman Para Dewa.

Raja Kasultanan Yogyakarta juga harus mampu mengguna­kan tombak yang melambangkan “Wahyu Kraton” yang diberi nama Tombak Kangjeng Kyai Ageng Pleret. Pusaka agung Tanah Jawa ini adalah warisan dari Syekh Maulana Maghribi, diwariskan untuk kekuatan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pusaka yang berujud tombak ini adalah jelmaan dari zakar Almarhum Syekh Maulana Maghribi, ketika bertapa di Laut Selatan. Karena tidak kuat melihat Para Bidadari yang mandi di depan Syekh Maulana Maghribi yang sedang berdzikir, zakar yang terangsang oleh hawa napsu menjadikan beliau marah besar dan langsung memotong kemaluannya sendiri. Po­­tongan ke­maluan disebda menjadi Pusa­ka Ageng dan diberi nama …


Baca Artikel Lengkapnya di Majalah Adiluhung Edisi 02

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s