Wayang Beber Yang Tak Lagi Digeber

Artikel Ini Dikutip Dari Majalah Adiluhung Edisi 02

Oleh: Indiria Maharsi, Msn

Ironis, sebuah warisan budaya adiluhung yang sudah berusia ratusan tahun dilupakan begitu saja. Nama­nya Wayang Beber. Untuk generasi muda sekarang, mengenal namanya saja tidak. Mengapa pemerintah dan para budayawan tutup mata melihat kenyataan pahit ini? Apa menunggu bangsa lain mengklaim se­bagai miliknya dan kita lalu ramai-ramai bereaksi?

Wayang Beber merupakan salah satu jenis wayang yang memiliki keunikan dalam bentuk visual dan cara pementasannya. Wa­yang ini disebut Wayang Beber karena tekhnik pertunjukan atau presentasinya dengan membeber atau menggelar gambar-gambar wa­yang yang dilukis pada kertas atau kain. Wayang ini terbuat dari kertas Jawa dan tidak membutuhkan kelir serta lampu dalam pertunjukkannya. Di samping itu wa­yang ini diiringi gamelan pe­ngiring berupa gendang, rebab, ketuk, kempyang, dan gong berlaras slendro dan dipertunjukan pada waktu siang hari dengan cara dibeber di muka penonton. Ketika dibeber maka peran sang dalang adalah menceritakan satu persatu pejagong atau adegan yang terdapat dalam gulungan-gulungan tersebut dengan cara menunjuk bagian gambar yang diceritakan dengan menggunakan tongkat atau kayu panjang yang disebut seligi.

Laksmana Cheng Ho
Sebelum pagelaran Wayang Beber dimulai biasanya diwajibkan dahulu untuk berdoa dan membuat sesaji. Hal ini karena Wayang Beber tersebut adalah sebuah benda pusaka yang biasa dipakai untuk upacara-upacara ter­­tentu yang berkait­an de­ngan kehidupan manusia, baik itu ruwatan atau kaulan, kelahir­an, dan lain-lain. Sehingga peran dalang di sini sangatlah penting karena dalang dianggap sebagai perantara yang memiliki kekuatan besar sebagai pengusir unsur-unsur jahat yang ada di sekitar manusia sekaligus dalang dianggap juga sebagai semacam perantara dalam hal spiritual maupun kerohanian bagi masyarakat sekitarnya.

Dokumentasi asing yang pertama kali menceritakan tentang Wayang Beber terdapat dalam buku “Ying-Yai-Sheng-Lan”. Buku ini ditulis oleh Ma Huan dan Fei Xin, dua orang Cina muslim yang datang ke Jawa mengiringi utus­an kaisar Tiongkok yang bernama Laksamana Cheng Ho dalam kunjungan ketiganya di sekitar tahun 1413 sampai tahun 1415. Dalam buku “Ying-Yai-Sheng-Lan” disebutkan bahwa Ma Huan dan Fei Xin menyaksikan orang-orang berjongkok mendengarkan sese­orang bercerita, kepada penonton tersebut ditunjukkan beberapa gambar. Sedang orang yang memainkan wayang tersebut disebut sebagai Widhucaka yang artinya widdhu adalah pemayang dan caka adalah dalang. Widhucaka ini memegang sebuah kayu yang dipakai untuk menunjuk gambar-gambar yang terdapat dalam kertas yang dibeber itu. Nama wayang yang saat itu dipagelarkan disebut sebagai Wayang Beber. Menilik cerita tersebut bisa dikatakan bahwa pada masa itu Wayang Beber merupakan bentuk keseni­an yang popu­ler dan rupanya bukan pula merupakan pertunjukan khusus di dalam kraton tapi juga sebagai hiburan umum di masyarakat. Dan jika melihat angka tahunnya maka saat itu adalah pada masa kerajaan Majapahit saat diperintah oleh Wikramawardana, anak dari Hayam Wuruk raja Majapahit sebelumnya.

Selain itu terdapat pula buku yang berjudul “Notes on Malay Archipelago anda Melaca, Compiled from Chinese Sources” yang ditulis oleh W.P. Groenneveldt. Dalam buku ini W.P. Groenneveldt mengutip sebuah berita dari Cina menyebutkan bahwa “Ada orang yang melukis manusia, burung, hewan, serangga dan sebagainya pada kertas; kertasnya berupa sebuah gulungan yang dilekatkan di antara dua rol kayu yang tinggi­nya tiga kaki; di satu sisi penggulung ini diset sama tinggi dengan kertasnya, sedangkan di dua sisi yang lain penggulungnya menonjol keluar. Dalangnya duduk bersila di tanah dan me­nempatkan gambar-gambar tersebut di depannya, membuka satu gulungan satu per satu dan menghadapkannya ke arah penonton, sementara itu dalam bahasa daerahnya dan dengan suara yang keras dia memberikan penjelasan per gambar; penonton duduk me­ngelilinginya dan mendengarkan, kemudian tertawa atau menangis tergantung jalan ceritanya”.

Dokumentasi asing yang lain muncul kembali sekitar empat abad setelah buku “Ying-Yai-Sheng-Lan” dalam “History of Java” yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jendral di Jawa pada kurun waktu yang singkat antara tahun 1811-1816. Dalam buku “History of Java” yang terbit tahun 1817 ini Raffles menyebutkan bahwa gambaran dari hiburan asli di daerah Jawa adalah petualangan Menak Jingga dan Damar Wulan. Hiburan ini dipertunjukkan secara tidak biasa yaitu dengan menggambar dalam lipatan kertas yang bersifat keras, sementara itu sang dalang kemudian menceritakan kisah dari gambar itu dilengkapi de-ngan dialog para tokoh-tokohnya. Pertunjukan hiburan seperti itu disebut sebagai Wayang Beber.

Selain Ma Huan-Fei Xin, W.P. Groenneveldt dan Thomas Stamford Raffles, terdapat pula bebe­rapa sarjana asing yang melakukan penelitian tentang Wayang Beber. Mereka adalah Serrurier, G.P. Rouffaer, G.A.J. Hazeu dan R.A. Kern. Namun yang pernah melakukan inventarisasi dan dokumentasi adalah G.A.J. Hazeu berdasarkan pagelaran Wayang Beber dengan dalang Ki Gunokaryo di pringgitan Kepatihan Yog­yakarta pada tahun 1901. Pada saat itu G.A.J. Hazeu melakukan dokumentasi dan catatan ter­perinci yang kemudian ditulis dalam buku berjudul ‘Een wajang-beber voorstelling te Jogjakarta’ di tahun 1902.

Dari Majapahit pindah ke Demak
Dalam konteks sejarah, Wa­yang Beber pertama kali dibuat saat kerajaan Padjajaran berdiri, saat itu yang menjadi raja adalah Raja Kuda Lalean atau Surya Hamiluhur. Setelah itu Wayang Beber muncul kembali pada saat kerajaan Majapahit di tahun 1361 Masehi atau 1283 Saka dengan sengkalan atau candra sengkala “gunaning pujangga nembah ing dewa”. Pada zaman Majapahit ini dilakukan banyak pengembang­an pada Wayang Beber terutama dalam aspek visualnya. Wayang Beber yang dulunya masih hitam putih kemudian diberi warna dan kebetulan raja Brawijaya waktu itu mempunyai putra yang bernama ….


Baca Artikel Lengkapnya di Majalah Adiluhung Edisi 02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s