Batik Wewe Gombel

Batik ‘Wewe Gombel’ Dari Semarang

Artikel Dikutip dari Majalah Adiluhung Edisi 01

Oleh Wiwid Prasetyo

 Berbeda dengan batik Surakarta dan Yogyakarta yang sudah lazim dengan bentuk parang ataupun kawung, batik Semarang memiliki identitas sendiri, seperti apakah identitasnya

Membicarakan batik Semarang tak bisa lepas dari geografis dan sejarah Semarang  sendiri. Batik Semarang tumbuh seiring dengan budaya yang bermunculan mengerucutkan identitasnya.

Menurut Amen Budiman dalam bukunya Semarang Riwayatmu Dulu, toponim Semarang muncul merujuk pada sebuah pulau yang dinamakan Tirang Amper atau Pulau Tirang, sejenis binatang kerang yang menempel di batu atau tembok pantai Semarang. Nama Semarang juga muncul dari nama pohon asem yang tumbuh di sekitar Jalan Mataram, Jalan MT Haryono sekarang dan jalan-jalan lain misalnya di kawasan Pelabuhan Johar. Aseme Arang, atau pohon asem yang tumbuh jarang-jarang itulah yang menjadi asal-usul nama Semarang.

Ketika Cheng Ho pada abad 15 mendarat di Pelabuhan Simongan di dekat Bukit Brintik, ia melihat Semarang masih berupa rawa-rawa. Beberapa pelabuhan penting yakni Pelabuhan Pragota dan Simongan dimiliki oleh Mataram Kuno yang berpusat di Medangkamulan, Grobogan. Maka tak heran jika para ahli yang meneliti tanah menemukan, kalau tanah Semarang berupa lapisan tanah muda yang terbentuk sekitar abad 15. Kelak makin lama laut itu makin menyusut dan hilanglah pelabuhan Simongan dan pelabuhan Pragota.

Pada abad 15 ketika Cheng Ho mengunjungi Semarang bisa dipastikan ada etnis lain selain pribumi. Cheng Ho, seorang Cina Muslim dari Dinasti Ming yang melakukan muhibbahnya ke Nusantara. Salah satunya dalam rangka untuk memberitahukan pada kaum tionghoa perantauan kalau Tiongkok sudah aman. Sudah tidak ada lagi kerusuhan yang membuat mereka semua menjadi pelarian sejak zaman Dinasti Sung.

Keberadaan etnis Tionghoa inilah yang mempengaruhi kebudayaan masyarakat Semarang. Karena dari etnis Tionghoa yang membentuk koloni dan tersebar di pecinan seperti di kampung Gang Pinggir, Gang Lombok, Gang Besen, Gang Belakang, Gang Warung, dan Gang Buncit.

Salah satu budaya itu adalah batik. Dalam sejarahnya batik Semarang justru dipengaruhi oleh etnis Tionghoa. Yakni Tan Kong Tien, anak dari Tan Siauw Liem, seorang mayor Tionghoa Semarang  yang diangkat oleh Belanda. Ia memiliki beberapa hektar tanah yang tersebar di kampung Plewan. Adapun anaknya, yakni Tan Kong Tien  yang memulai usaha batik setelah menikah dengan Raden Dinartiningsih, salah seorang keturunan Sultan Hamengkubuwono III. Perkawinan keduanya tak hanya perkawinan biologis, tetapi juga perkawinan budaya. Karena dari keduanya bertemulah kutub budaya yang berbeda, Yogyakarta dan Semarangan.

Kepada Raden Dinartiningsih inilah Tan Kong Tien banyak belajar batik, namun tetap tidak meninggalkan ciri khas yang ada. Karena Tan Kong Tien etnis Tionghoa, ia percaya mitos kalau burung hong akan membawa peruntungan atau rezeki tersendiri. Maka ditambahlah dalam motif batik itu burung hong, yang membuat pemakainya merasa percaya diri. Dengan memakai batik itu orang akan semakin meningkat wibawanya.

Batik di Semarang perlahan-lahan bangkit dan dipelopori oleh Tan Kong Tien. Ada beberapa industri batik Semarang seperti di Kampung Batik, di Senjoyo, di Plewan, Bugangan sampai di Jatingaleh, namun keberadaannya harus binasa setelah tentara Jepang datang dan menghancurkan semuanya. Industri batik Semarang yang sudah maju ini dihancurkan Jepang karena dianggap mengganggu stabilitas ekonomi.

MOTIF JAWA HOKOKAI

Jepang kemudian mengambilalih batik Semarang dan menetapkan corak sendiri. Corak batik yang ditetapkan Jepang ini sangat rumit, penuh dengan ceceg dan coret, serta ada lambang bunga sakura di dalamnya. Hal itu dilakukan Jepang tak lain untuk mengatasi pengangguran dari para buruh batik yang tidak punya pekerjaan. Dibuatlah satu motif batik yang rumit dengan pekerjaan yang lama untuk mengisi pekerjaan para buruh. Satu motif batik bisa diselesaikan selama berbulan-bulan, belum lagi bahan baku yang rumit akibat situasi perang Pasifik semakin mempersulit keadaan.

Corak batik pada waktu itu dinamakan Jawa Hokokai, sebuah corak yang terambil dari nama perkumpulan organisasi bentukan Jepang pengganti PUTERA. Di dalamnya terdapat beberapa organisasi kedokteran, kewanitaan dan budaya. Ternyata memang pada saat itu batik itu dipesan oleh lembaga Jawa Hokokai pada orang Indonesia sendiri yang dianggap berjasa dalam propaganda Jepang. Sedangkan motif bunga sakura yang dipilih karena bunga ini adalah penanda siklus kehidupan manusia yang begitu singkat. Bunga sakura hanya mekar dengan sangat indah pada musim semi, kemudian berguguran pada pergantian musim. Ini menggambarkan kehidupan manusia yang singkat sebelum digantikan oleh manusia lain.

MOTIF BLEKOK SRONDOL

Evolusi batik Semarang antara masa 1965-1980-an banyak didominasi oleh warna merah, lambang yang disukai orang Tionghoa. Soal warna itu sebenarnya tidak bisa dijadikan patokan. Yang patut dijadikan perhatian yaitu motif fauna yang lebih sering digunakan daripada flora. Dulu ada burung hong, kemudian digantikan oleh Merak, dan pada masa itu juga ada satu motif yang menarik perhatian, yakni motif Blekok Srondol. Blekok adalah nama burung yang berdiam di daerah Srondol yang kala itu banyak bertengger di pohon asem dan menjadi habitatnya. Kalau sekarang mungkin tepatnya di dekat Markas Banteng Raiders Semarang. Bahkan sampai sekarang masih kita jumpai dan menjadi sebuah fenomena menarik bagaimana burung-burung blekok itu kerap kali ‘bunuh diri’ dengan menjatuhkan diri ke bawah hingga disambar oleh mobil-mobil yang lewat.

MOTIF ASEM TUGU

Para kreator seni tak henti-hentinya untuk terus mencari identitas batik Semarang, dan kerja kreatif mereka patut dihargai sehingga mengerucutlah satu identitas batik yang paling mewakili kota Semarang, yakni motif Asem Tugu. Asem Tugu mewakili identitas yang berbeda kurun waktunya. Pohon Asem yang sering disebut dalam sejarah asal-usul Semarang, Aseme Arang karena begitu banyaknya Pohon Asem yang tumbuh di kota Semarang. Adapun tugu yang dimaksud adalah tugu muda. Sebuah monumen perjuangan untuk mengenang pertempuran lima hari di Semarang yang sangat fenomenal dan melibatkan para pemuda Semarang.

MOTIF GOMBEL

Barangkali inilah satu-satunya motif batik Indonesia yang mengidentifikasi makhluk halus. Di dalam motif gombel itu dilukiskan sebuah jalan menanjak di daerah Gombel Semarang, dan di atas tanjakan gombel itu berkeliaran setan-setan yang dinamakan Wewe Gombel. Ya, siapapun yang pernah menaiki atau menuruni tanjakan Gombel ini mengerti tentang mitos Wewe Gombel. Jalan itu sebenarnya ada dua, Gombel Lama dan Gombel Baru. Gombel Lama tanjakannya lebih curam, di kanan dan kirinya sangat sepi dan hanya ada satu perumahan disana karena dianggap angker. Sedangkan Gombel baru lebih ramai, terdapat hotel, restoran dan Taman Tabanas sehingga orang dapat melihat keindahan Semarang bawah dari situ. Di Gombel lama itulah beredar cerita adanya hantu yang digambarkan memiliki payudara yang memanjang dan suka menculik anak. Keberadaannya semakin nyata setelah dahulu ada acara di televisi,  Pemburu Hantu yang hendak menangkap hantu wewe gombel namun pemburu hantunya dibuat kewalahan olehnya.

 MOTIF LAWANG SEWU

Motif ini menjadi salah satu identitas yang ada di kota Semarang. Lawang Sewu sebagaimana kita tahu sangat akrab dengan orang Semarang. Dahulu di masa penjajahan Belanda, Lawang Sewu sebagai   kantor Netherlandsche Indische Spoorweg atau kantor kereta api Belanda. Pada masa Jepang gedung itu diambil alih dan dijadikan penjara untuk para pemuda Indonesia yang membangkang pada Jepang. Dalam cerita yang beredar menyebutkan kalau para pemuda digiring untuk dipenggal kepalanya di bawah tanah, hingga tembus ke Kalisari yang menyebabkan airnya berwarna merah darah. Ini semakin menambah kesan menyeramkan sendiri bagi masyarakat Semarang. Di dalam motif lawang sewu tersebut bercampur dengan motif mega mendung milik batik Cirebon.

 MOTIF GAMBANG SEMARANG

Didalam motif gambang Semarang terlukislah seperangkat gamelan, ada gong, kempul, saron dan sebagainya. Padahal dari akar katanya gambang mengacu pada alat musik pukul yang terdiri dari bilah-bilah kayu seperti kulintang. Namun dalam perkembangannya memang terdiri dari seperangkat gamelan, bahkan makin lama bisa saja ditambah dengan rebana, bedug bahkan kentongan.

Paguyuban musik Gambang Semarang ada sejak 1930 beranggotakan campuran penduduk Tionghoa dan pribumi. Biasanya mereka manggung di gedung pertemuan Bian Hian Tiong, jalan Gang Pinggir, Semarang. Lagu “Empat Penari” digubah Oey Yok Siang dan liriknya ditulis Sidik Pramono pernah jadi top hits pada 1950-1960′an dan dinyanyikan oleh Ernie Djohan. Tetapi karena gerusan dari kebudayaan barat musik gambang Semarang ini akhirnya sepi order. Namun orang Semarang takkan pernah lupa kalau dahulu mereka pernah memiliki identitas musik yang mulai dilupakan orang, Gambang Semarang. Maka dilukiskanlah dalam salah satu corak batik sebagai sebuah prasasti kalau dahulu mereka pernah memiliki identitas musik asli Semarang. []
Majalah Adiluhung Edisi 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s